Jumat, 12 Maret 2010 | 09:51 WITA
SELAMAT hari Jumat. Di hari yang baik ini marilah kita saling mengingatkan untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan amal kebaikan. Amal saleh yang penuh ikhlas dan berkualitas akan menuntun dan mengawal nurani kita mendekat kepada Tuhan.
Dulmatin lahir di Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Tahun 1970-an ketika saya sering ke sana, kota kecamatan ini masih sangat kecil. Keramaian yang ditandai dengan indikator kegiatan ekonomi hanya berpusat di seputar Pasar Petarukan di sepanjang jalan besar pantura.
Ketika itu rumah-rumah penduduk masih jarang sekali. Tapi kini, kota kecamatan yang terletak sekitar lima kilometer ke arah timur dari kota Pemalang menuju Pekalongan itu, sudah ramai dan padat penduduk. Rumah keluarga Dulmatin kira-kira berjarak satu kilometer dari Pasar Petarukan, masuk ke dalam.
Waktu muda, di tahun 70-an, saya pernah berguru ilmu bela diri ke Petarukan. Di sana ada seorang suhu yang mengajarkan Toya, ilmu bela diri dengan senjata tongkat, seperti yang kita lihat sekarang di televisi diperagakan oleh tokoh Sun Go Kong. Suhu saya itu rumahnya dekat stasiun kereta api, masuk ke dalam ke arah selatan dari Pasar Besar Petarukan.
Yang saya tahu, dari dulu masyarakat Kecamatan Petarukan memang tergolong santri. Artinya, masyarakatnya taat beribadah, tapi tidak tergolong fanatik. Maka, kalau pun kemudian kota kecamatan ini "melahirkan" Dulmatin yang sangat fanatik, sehingga membawanya mendapat predikat teroris, maka saya yakin kefanatikannya itu dia timba dari tempat lain dan negara lain. Dulmatin, Senin (9/3) yang lalu tewas setelah baku-tembak dengan Densus 88 di Pamulang, Tangerang Selatan.
Allah SWT memiliki nama-nama indah yang kita kenal dengan "Asma al-Husna" jumlahnya ada 99. Salah satu diantaranya adalah "al-Matin," artinya Yang Maha Kokoh. Maka saya yakin, orang tuanya dulu, memberi anaknya dengan nama Dulmatin pun dengan harapan kelak ia menjadi orang yang kokoh. Kokoh dalam iman, kokoh dalam Islam, kokoh dalam membela kebenaran, kokoh dalam pendirian dan perjuangan (jihad).
Tentang kata "Dul" saya yakin itu adalah sebuah singkatan dari kata "Abdul". Karena, demikianlah kebiasan orang Jawa santri asal eks Karesidenan Pekalongan, yang suka menyingkat-nyingkat nama orang. Seperti singkatan untuk nama Dulbari, Dulatif, Dulkarim, Dullah dan seterusnya. Jadi, nama benar dari Dulmatin tentunya adalah Abdul Matin yang artinya adalah Hamba (Allah) yang Kokoh.
Dalam kisah asbab an-nuzul (sebab-sebab turunnya ayat al-Quran), ada kisah menarik yang relevan dengan peristiwa terbunuhnya Dulmatin yang kokoh prinsipnya itu. Ketika itu Nabi Muhammad SAW dan para sahabat masih dalam kondisi perang melawan orang-orang kafir yang memusuhi umat Islam.
Dikisahkan, suatu hari salah seorang sahabat berpapasan dengan mereka. Lalu diucapkanlah kata "Assalaamu alaikum." Namun, sang kafir diam membisu tak menjawab salam tersebut. "Ini pasti musuh," kata sahabat tersebut dalam hati. Lalu, dihunuslah pedangnya dan "craaasss" leher orang kafir itu putus, tewas.
Namun ternyata, Allah SWT tidak berkenan dengan sikap sahabat yang seperti itu. Al-Quran menegurnya seperti yang bisa kita baca dalam surat an-Nisa. "Jangan berkata (bersikap) terhadap seseorang yang mengucapkan salam kepadamu, 'Anda bukan mukmin.' Karena (sesungguhnya) dulu kalian juga demikian." (QS 4:94).
Kalimat "dulu kalian juga demikian" dalam ayat itu dipahami oleh sejumlah ulama dengan pengertian bahwa dulu nurani kalian (para sahabat Nabi) juga tidak percaya kepada Islam. Namun Yang Maha Bijaksana, membiarkan nurani para sahabat tersebut. Karena sesungguhnya Allah tidak bermaksud memasung nurani.
Ada tiga jawaban Rasulullah SAW tentang misteri nurani. Kisahnya juga diangkat dari era kehidupan Nabi dengan para sahabat yang ketika itu jumlahnya masih sedikit. Muaranya adalah sebuah keraguan tentang apakah benar Allah itu ada. Para sahabat bertanya, "Wahai Nabi, ada ganjalan dalam jiwa kami. Lebih baik kami terjerumus dalam jurang yang sangat dalam daripada berterusterang mengucapkannya."
Namun, Nabi Muhammad yang mampu membaca nurani para sahabat, lalu bertanya, "Apakah kalian telah merasakan itu?" Para sahabat menjawab, "Benar, kami merasakannya."
Lalu, Rasulullah menjawab, "Alhamdulillah, itulah iman. Alhamdulillah, Tuhan menggagalkan tipu daya setan sehingga hanya menjadi keraguan. Nabi Ibrahim pun ragu, dan kita lebih wajar ragu daripada beliau."
Tiga jawaban Rasulullah itu disimpulkan bahwa, pertama, nurani itu sejatinya suci dan mengarah kepada kebenaran ilahiyah. Kedua, nurani itu rapuh, mudah terombang-ambing oleh keraguan. Ketiga, setan memang diberi lisensi yang dengan tipu-dayanya selalu menggoda nurani manusia untuk ragu sehingga kemudian menjauh dari Tuhan.
Maka, nurani adalah bisikan hati. Allah dan Rasul-Nya sangat menghargai nurani manusia. Sehingga keraguan iman pun kalau itu merupakan bisikan hati sesorang, maka Tuhan dan Rasulnya akan membiarkannya. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Janganlah kalian menilai keikhlasan kalian melebihi keikhlasan orang lain yang berbeda pendapat dengan kalian. Karena, pernahkah kalian membelah dada orang lain itu?"
Demikianlah agama Islam memberi kebebasan perbedaan. Dengan begitu, kita tidak boleh mengatakan diri kitalah yang paling benar, dan orang lain salah. Karena sesungguhnya, untuk menguji kebenaran kita dan kesalahan orang lain, maka kata Rasul, kita harus membelah dulu hati (dada) orang lain itu untuk mengetahui nuraninya.
Pembaca yang saya hormati. Silakan meneruskan membaca berita-berita sajian Tribun Kaltim edisi cetak dan online hari ini. Kami berharap kiranya sajian kami selalu membawa hal baru dari hari ke hari, yang bermanfaat bagi seluruh pembaca.
Nurani itu dapat terbentuk oleh pandangan hidup dan lingkungan. Karena itu, pendidikan formal maupun pendidikan di rumah, memiliki peran yang sangat besar. Utamanya untuk membentuk nurani yang selalu mendekat kepada Allah.
Mari kita berlindung dengan nama Allah, agar kita tidak memiliki nurani yang penuh amarah setan yang menjauh dar Tuhan. Yaitu, nurani yang bila diwujudkan dalam sikap hidup maka akan menghasilkan manusia atau kelompok yang dengan gampangnya menghunus pedang, lalu "craasss..." putuslah leher orang lain, hanya karena tidak menjawab uluk salam kita.
Salam. (*)