Perkebunan
Konservasi Hutan PT Swakarsa Percayakan ke UGM
Priyo Suwarno
Penandatanganan naskah kerja sama antara Dekan Fakultas Kehutanan UGM Prof Dr Mhammad Naim (kanan) d
Rabu, 4 Februari 2009 | 21:26 WITA


YOGYAKARTA, TRIBUN - Fakultas Kehutanan (F-Hut) UGM mendapat kepercayaan  menangani pengaturan konservasi biodiversitas hutan yang berada di zona perkebunan sawit kelolaan PT Swakarsa Sinarsentosa. Areal konservasi seluas 5.000 hektare dan ditujukan sebagai upaya pelestarian lingkungan.

Kepercayaan tersebut dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditandatangani antara Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Prof Dr. Ir. Muhammad Na'im dengan Presiden Direktur PT Swakarsa Sinarsentosa, T. Arifin Cahjono di auditorium fakultas, Selasa (3/2).

Dalam survei awal, diketahui masih terdapat hutan area konservasi yang memiliki flora dan fauna dengan nilai konservasi yang tinggi (high conservation value/HCV), misalnya sejumlah spesies flora dan fauna yang terancam punah.

PT Swakarsa Sinarsentosa merupakan pengelola perkebunan sawit di wilayah Muara Wahau,  Kutai Timur yang sudah menjadi anggota RSPO (Roundable on Sustainable Palm Oil-2004). RSPO merupakan organisasi internasional yang mempunyai 300 anggota multipihak mencakup pekebun, pengolah, pedagang, konsumen, investor, bank, pecinta lingkungan dan lembaga swadaya masyarakat.

Menurut rencana fakultas kehutanan itu akan mendapatkan kesempatan mengelola selama tiga tahun dengan biaya Rp 1,7 miliar, pola ini sebagai bagian dari upaya kesepakatan sawit lestari. RSPO bertujuan untuk memromosikan perkebunan sawit berdasarkan delapan prinsip yaitu: transparensi, kepatuhan legalitas, praktik budidaya, pengolehan produk terbaik serta perbaikan yang berkelanjutan.

PT Swastakarsa sedang menyiapkan diri untuk memenuhi semua prinsip dan kreteria produksi sawit lestari dan berusaha mendapat sertifikat RSPO. 

Prof Naim mengatakan baru pertama kali ini terjadi kerja sama bidang kehutanan dengan pihak perusahaan. Lewat kerja sama ini, maka terdapat banyak peluang yang bisa dikerjakan. Kenyataan bahwa perluasan kawasan hutan sawit di Indonesia dan Malaysia tidak bisa dibendung.

"Masih ada kesan buruk pengelolaan sawit yang kurang ramah lingkungan, sustainable produksi dan lingkungan akan menjadi perhatian kita semua. Disinilah ahli-ahli kehutanan di UGM juga di peguruan tinggi lainnya bisa berperan untuk melakukan yang terbaik bagi sawit," katanya.

"Saya kira trust (kepercayaan, red) ini harus kita bangun, ahli-ahli di Fakultas Kehutanan UGM akan banyak memainkan peranan agar sawit bisa dikelola secara baik," tegasnya.

PRESIDEN Direktur PT Swakarsa Sinarsentosa, T. Arifin Cahjono pada acara penandatangan nota kerja sama dengan Fakultas Kehutanan UGM untuk konservasi biodiversitas hutan, mengatakan bahwa persoalan perkebunan sawit merupakan rangkaian dari usaha manusia sejak berjuta-juta tahun silam untuk menjaga kelangsungan hidupnya dengan cara menaklukkan alam.

Dalam perjalanan, kehidupan zaman modern menjadi kurang pas melakukan perambahan dan membabat hutan. Persoalan ini menjadi relevan ketika dikaitkan dengan sawit. Apakah kita harus mengorbankan alam untuk sawit atau secara total sawit dihentikan agar bisa bersahabat dengan lingkungan?

Kenyataan sekarang ini ketergantungan kita terhadap sawit semakin tingi, sebaliknya terjadi penilai begitu gencar isu sawit yang buruk terhadap lingkungan. Bukankan negara yang gencar mengritik kerusakan sawit atas lingkungan itu adalah negara yang sudah lama habis hutannya!

Mengapa tidak ada satu pun yang protes atau mengritik persentase kerusakan akibat penamaman kedelai misalnya. Tingkat kerusakan penanaman kedelai dibanding sawit enam kali lipat dibanding sawit. Tetapi tidak ada satu pun yang memperasalahkan. Harus diakui bahwa kedelai memang menjadi kekuatan di AS, dan tidak ada yang mempersolkan.

Dia menyatakan memang naif bila menyatakan bahwa pengelolaan sawit tidak mengganggu lingkungan. "Akan tetapi, kami akan terus menerus berbenah diri. Bagaimana kita harus mengelola sawit secara baik dan benar tanpa harus banyak korban, kalau ada korban tetapi tidak berarti. Mari kita berbenah!" katanya.

Untuk itulah, PT Swakarsa Sinarsentosa muncul gagasan untuk bekerja sama dengan UGM agar bisa berbuat lebih baik, "Bukan sekadar untuk membuat reklame untuk dunia belaka, akan tetapi pengelolaan lingkungan yang baik akan menjamin konservasi air, predator dan menjaga lingkungan memang menjadi kebutuhan kita bersama," tegasnya.

Mengapa dipilih UGM? "Karena kami tidak mau coba-coba. Secara ilmiah harus bisa dipertanggunjawabkan untuk menata lingkungan agar lebih baik. Mari kita melangkah maju untuk semua pihak." (ps)
 
 

1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

ya kenapa dengan UGM. Kenapa tidak dengan UNMUL...dengan temen2 IKA Fahutan Unmul juga bisa...Bagian dari pemberdayaan potensi SDM lokal

Posted by: dwiyanto | Senin, 15 Maret 2010 | 06:28 WITA

kenapa harus UGM... mo berkelik ya... dari fakultas kehutanan UNMUL yang kontra terhada kebun kelapa sawit

Posted by: hafid | Jumat, 20 Maret 2009 | 20:44 WITA

bravo swakarsa

Posted by: yosef | Jumat, 6 Februari 2009 | 15:36 WITA

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved