Balikpapan
Undangan HUT Balikpapan Dihibur Tarian Arab
M WIKAN HENDARMAN
Walikota Imdaad Hamid, Wawali Rizal efendi, dan Ketua DPRD meniup lilin HUT ke-112 Balikpapan
Selasa, 10 Februari 2009 | 22:55 WITA

BALIKPAPAN, SELASA - Peringatan upacara HUT Balikpapan ke-112 yang berlangsung di Lapangan Merdeka, Selasa (10/2), semakin semarak dengan hadirnya ribuan penari.
Sebanyak 1.112 pelajar SMA dan SMK, kelompok rebana, hadrah dan kasidah se-Kota Balikpapan, larut menghibur undangan yang hadir pada upacara itu.

Perkusi mulai ditabuh sembilan pemuda berpakaian serba ungu ala padang pasir. Di hadapan sejumlah pejabat tinggi Balikpapan, ratusan penbawa bendera, payung dan kembang serai satu persatu mulai memasuki lapangan hijau tempat berlangsungnya upacara.

Tepuk tangan penonton terus membahana seiring lemah gemulainya gerak tubuh mereka membawakan tarian itu. Balikpapan dengan penduduknya yang heterogen memiliki keragaman budaya yang begitu mempesona. Perpaduan gerak dan irama begitu serasi dalam penampilannya itu.

Tak lama kemudian, muncul ribuan wanita berpakaian putih hitam dengan membawa rebana dan hadrah masing-masing. Sambil memainkan alat musiknya itu, enam penyanyi wanita terus mengiringi. Enam penyanyi berpakaian ala padang pasir ini terus mundur sedangkan pemain rebana dan hadrah membentuk barisan.

Tiba-tiba muncul lagi tiga kelompok penari yang merupakan gabungan dari pelajar SMA dan SMK di Balikpapan. Kelompok satu menggunakan pakaian serba hijau, kemudian kelompok kedua menggunakan pakaian serba merah. Sedangkan satu kelompok lagi menggunakan pakaian serba ungu.
Suasana padang pasir begitu terasa dengan tampilnya ribuan penari ini. Esti, seorang pemain hadrah mengatakan setiap hari mereka harus berlatih sebelum tampil di lapangan. Bahkan tiga hari menjelang hari pelaksanaan upacara mereka bisa tiga jam berlatih di lapangan Merdeka. Semangat yang besar membuat panasnya terik matahari saat berlatih jadi tak begitu terasa.

Ia pun tak canggung tampil di hadapan para undangan. Sebab, bermain hadrah di depan umum sudah berkali-kali dilakukannya saat lomba. "Saya  ingin meramaikan HUT Kota Balikpapan, karena kita bangga bisa tampil disini," ujarnya.

Meski baru pertama kali tampil, namun enam orang wanita ini tak canggung membawakan lagu syair Arab. Jamilah, penyanyi lagu padang pasir itu mengaku hanya belajar nyanyi Arab dari kaset yang disediakan panitia.

Bersama lima rekannya yang lain, mereka harus menyisihkan waktu sampai seminggu lebih untuk berlatih nyanyi sekaligus menari Gipsi ala Mesir. "Lagu dan tarian yang kami bawakan ini terinsipirasi dari Cleopatra di Mesir," ujarnya seraya mengatakan, lagu yang mereka bawakan itu berisi syair penghormatan kepada undangan.

David yang ikut memukul perkusi mengaku tak ragu bermain karena sudah biasa di grup band. Bersama delapan rekannya yang lain, ia merasa bangga bisa tampil di hadapan Walikota Balikpapan. Untuk tampil, semua atribut disediakan panitia.

Berlatih hingga berminggu-minggu ternyata bisa mengganggu jadwal belajar. Luki, siswa SMK Kartika yang berperan sebagai pembawa kembang serai sering tidak masuk sekolah karena jadwal latihan yang tidak menentu. Belum lagi saat latihan ia kerap dimarahi. "Tapi tidak masalah karena ini juga demi Balikpapan," katanya. (m23)

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved