Ilustrasi : Penutupan Lomplai Adat Dayak Wehea. Acara adat dapat menjadi atraksi wisata yang memikat
Rabu, 29 April 2009 | 23:38 WITA
Embos Epang Plai mengandung arti membuang hampa padi, selain itu merupakan acara penutup dalam rangkaian pesta Lomplai yang berlangsung selama sebulan penuh, dimulai menjelang musim panen dan sebelum menanam padi.
DALAM acara Embos Epang Plai ini, para warga kampung berbondong-bondong menuju ke bagian hulu kampung dengan menyanyikan doa-doa. Biasanya acara ini dilakukan sore hari. Seorang Tua Adat melantunkan doa dan disambut oleh peserta secara beramai-ramai. Doa yang dinyanyikan tersebut adalah Tluei Pliq Plai yang mengandung makna untuk mengusir dan membuang segala yang akan bersama terbenamnya matahari serta mendoakan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat, ternak dan makanan.
Setibanya di lapangan (tempat penutupan), seorang tua adat dan sesepuh berkumpul untuk melakukan ritual penutupan ditengah lapangan. Tampak sepiring padi, dua butir telor dan seekor anak ayam. Seorang tua adat itu langsung membelah dada anak ayam itu, kemudian bagian dalamnya dikeluarkan, dan ditancapkan diatas ujung bambu yang berjejeran dengan batang pisang. Sedangkan darahnya sengaja diteteskan di batang pisang itu. Selain itu, butiran padi ditaburkan disekitar batang pisang tersebut.
Setelah itu, Kepala Adat dengan sesepuh adat perempuan melantunkan doa-doa. Sesepuh perempuan itu merupakan satu-satunya perempuan dewasa yang memiliki kemampuan dan kelebihan. Tampak sejumlah anting besar yang menggantung ditelinganya Para warga kampung yang mengelilingi acara itu, mengikuti dnegan penuh hidmat. "Hanya sesepuh yang bisa melantukan doa-doa ini. Jadi memang tidak sembarangan yang bisa meneruskan keahlian yang dilimilikinya," ujar Kepala Adat Dayak Wehea Ledjie Taq.
Kemudian, sejumlah lelaki dan perempuan dewasa yang sudah mengenakan pakaian kebesaran adat dayak Wehea, langsung melakukan tarian dan memutar. Para penari itu juga dilengkapi senjata lengkap seperti mandau dan lainnya, tarian itu juga diiringi lagu-lagu khas dayak. Pesta adat dayak ini juga didukung oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat The Natural Conservasy (TNC) dan Orang Utan Conservation Service Program (OCSP).
"Kami melakukan pendampingan terhadap masyarakat Wehea sejak tahun 2003 hingga sekarang. Kebetulan kami juga memiliki program untuk peningkatan sumber daya manusi dan mempertahankan nilai-nilai budaya adat Dayak Wehea," ujar Kordinator TNC Kalimantan Niel Makinuddin. (feri mei efendi)