|
|
|
Lab
BO-105 dan Penerbangan Heli Militer
Rabu, 10 Juni 2009 | 07:28 WITA
Sambil mengenangkan perwira dan kopilot helikopter BO-105 yang gugur dalam kecelakaan Senin (8/6) di Cianjur, wacana kita arahkan kepada penerbangan helikopter militer, satu wilayah yang semestinya terus kita kembangkan, mengingat misi yang bisa diemban oleh satuan ini. Di Indonesia, helikopter dioperasikan selain oleh ketiga angkatan juga oleh Polri, masing-masing dengan tipe dan misi berbeda-beda. Di lingkungan Angkatan Laut ada heli yang punya misi khusus, yakni untuk perang melawan kapal selam (antisubmarine warfare/ASW), sementara di Angkatan Darat ada heli penyerang (attack). Di TNI AD, untuk kategori ini ada dua heli Mi-35P Hind buatan Rusia. Tetapi, di ketiga angkatan ada dua jenis heli yang berperan sama, yakni untuk support (seperti Puma dan Super Puma) dan utilitas seperti BO-105. Seperti dikutip The Military Balance (IISS, 2008), TNI AD memiliki 17 heli BO-105 yang mulai dibuat berdasarkan lisensi pabrik pembuatnya, Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB), oleh industri kedirgantaraan nasional IPTN (sekarang PT DI) sejak tahun 1976. MBB sendiri sejak tahun 1991 menjadi bagian dari Eurocopter. Semula IPTN yang hanya dipasok rotor dan transmisi oleh Jerman hanya membuat versi CB, tetapi berikutnya, dimulai produksi ke-101, IPTN juga membuat versi NBO-105CBS yang lebih panjang. BO-105 merupakan helikopter ringan bermesin ganda yang dirancang sebagai
Helikopter yang pertama kali terbang
BO-105 yang digunakan secara luas ini, selain digunakan oleh militer dan polisi, juga dirancang untuk evakuasi medis dan operasi minyak lepas pantai. Terakhir, dikombinasikan dengan heli EC-225, BO-105 juga diunggulkan untuk pemadam kebakaran hutan. Secara desain, heli dengan rotor utama berbilah empat dari bahan komposit ini memiliki kemampuan manuver tinggi. Sebuah BO-105CBS yang digunakan untuk promosi oleh Red Bull USA memiliki kemampuan aerobatik penuh hingga heli ini bisa terbang membuat lup, berguling (roll), dan melakukan manuver-manuver lain yang biasanya dilakukan oleh pesawat sayap tetap. Semua sistem utamanya—hidrolik, elektrik, bahan bakar, dan lubrikasi—dirancang redundan (dengan serep). Terbang dengan helikopter merupakan pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan dengan penerbangan sayap tetap. Dengan helikopter BO-105, Kompas pernah terbang menjelajahi wilayah Sulawesi Tenggara pada awal tahun 1986. Dengan kokpit gelas kaca yang luas, duduk di sebelah Kapten Lektor Panjaitan saat itu terasa seperti terbang di atas kursi terbang. Heli kadang melaju cepat, kadang melambat, kadang malah diam di udara (hoovering). Pengalaman lain yang lebih hebat adalah terbang dengan helikopter AL Amerika Serikat yang berpangkalan di kapal induk (USS Abraham Lincoln). Pada awal tahun 2005, pilot heli Sea Hawk SH-60F yang digerakkan dua mesin General Electric T700-GE-700 menerbangkan heli yang mengangkut bantuan kemanusiaan bagi korban tsunami Aceh dengan keterampilan mengagumkan. Sea Hawk dengan kecepatan tinggi terbang meliuk-liuk, tak jarang dengan badan
Kita berharap para pilot helikopter militer kita pun satu saat nanti punya kecakapan menerbangkan heli seperti itu. Seperti diperlihatkan dalam pameran kedirgantaraan terkemuka dunia, di Le Bourget (Perancis) atau Farnborough (Inggris), kecakapan menerbangkan heli militer diperlihatkan selain oleh pilot Amerika dengan heli
Di negara maju, seperti Amerika Serikat, AD membuka kesempatan luas bagi orang muda untuk menjadi pilot helikopter.
Karier pilot helikopter militer juga disertai dengan iming-iming yang baik. Disampaikan bahwa karier ini tidak mudah, tetapi dalam jangkauan mereka yang punya komitmen
Dalam profesi, pilot helikopter memanfaatkan seluas-luasnya kemampuan helikopter yang mampu lepas landas dan mendarat di area sempit dan bahkan diam di udara. Semua keunggulan helikopter ini bisa dipelajari dalam sekolah penerbang yang pemanfaatannya bisa bersifat militer ataupun sipil. Ke depan, helikopter masih akan terus disempurnakan, yang hasilnya mungkin mewujud dalam produk seperti heli Blue Thunder yang dilukiskan melalui film fiksi ilmiah. Saat ini memang heli serang maju yang dikembangkan AS, Commanche, telah dibatalkan. Tetapi—pada era pesawat tanpa awak sekarang ini—pengamat masih menyebut-nyebut adanya UCAR (Unmanned Combat Aerial Rotorcraft), helikopter tempur nirawak. Bila pesawat tempur modern dicirikan oleh kemampuan mengelak dari radar (stealth), heli masa depan disebut tidak membutuhkan teknologi ini karena heli relatif terbang rendah. Desain seperti NOTAR (No Tail Rotor) karya Boeing, untuk tipe serang dilapisi baja lebih kuat, dipandang sudah memadai. Tentu lebih baik lagi bila penampakannya—dalam gelombang inframerah dan visual—lebih kecil. Musibah BO-105 TNI AD diharapkan menjadi momentum untuk terus menyegarkan pendidikan dan manajemen operasi penerbangan helikopter karena secara teknologi dan manfaat, penerbangan helikopter militer tetap akan besar. (kompas.com) komentar
|
advertisement
|