Samarinda
Air Merupakan Indikator Utama Pengukur

Selasa, 27 Oktober 2009 | 20:54 WITA

Kesuksesan penyelenggaraan pembangunan diukur dari berbagai sisi. Namun di bidang lingkungan, indikator utamanya diukur dari kondisi air. Ini dikemukakan aktivis lingkungan Niel Makinuddin dalam diskusi publik bertajuk: Menakar Indikator Kinerja Kunci Pembangunan Bidang Lingkungan. Diskusi yang diselenggarakan di Hotel Grand Tiga Mustika Balikpapan itu dimotori GTZ Jerman bekerja sama dengan Tribun Kaltim.

AIR merupakan unsur dominan dalam kehidupan. 71% wilayah bumi adalah perairan, dan 78% wilayah Indonesia adalah perairan. Artinya, air merupakan variabel penting untuk mengukur sukses tidaknya pemerintahan.

Mengapa demikian? "Air adalah ukuran kesehatan lingkungan. Dan kesehatan lingkungan tergantung dari tata pemerintahan," ujar Niel. . Ia menekankan pemerintahan (Governance) tidak sama dengan pemerintah (Goverment). Di dalam pemerintahan terdapat sistem pemerintah dan masyarakat.

Aksi interaksi dua komponen tersebut bisa diukur dari kualitas air. Baik dalam aspek fisik, kimia, maupun biologi. Contohnya, bila di perairan ditemukan banyak Bakteri E-Coli, maka sungai tersebut tentu berfungsi sebagai septic tank masyarakat. Hal tersebut perlu diperhatikan oleh pemerintah agar limbah tidak mencemari perairan.

Contoh lain tentang kekeruhan. Bila air keruh, tentu ada sedimentasi tinggi dari kawasan yang terkupas. Hal ini perlu diselidiki lebih lanjut. Terlebih kawasan Kalimantan terdiri dari hutan hujan tropis. Bila terjadi krisis vegetasi, maka sedimentasi bisa merusak terumbu karang di Selat Makassar. Padahal kawasan tersebut termasuk segitiga karang dunia (the world coral triangle).

Secara umum ia berpandangan bahwa keberhasilan pemerintah tergantung pada kondisi air tanah dan air permukaan. Secara mikro, kondisi air terlihat dari 3 indikator yakni fisik, kualitas, dan ketersediaan. Aspek fisik terlihat dari bagaimana kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS). Kualitas air terkait dengan kelayakan  konsumsi dan pemenuhan standar baku mutu.

"Sedangkan ketersediaan terkait dengan ruang terbuka hijau. Semakin banyak RTH, maka air tanah yang tersedia semakin besar," katanya. Terkait Balikpapan yang tergantung curah hujan, terdapat perbedaan kontras antara DAS Wain dan DAS Manggar. "Sungai Wain masih ada airnya walaupun kemarau panjang. RTH menjadi komponen utama yg mengatur siklus air," katanya.

Secara umum, Niel menyebutkan delapan aspek yang perlu dijadikan dasar pengukuran IKK.  Yaitu kualitas dan kuantitas air, kualitas udara, efisiensi energi dan tingkat emisi karbon. Selain itu juga diukur ruang terbuka hijau, kebakaran hutan dan lahan, tutupan bakau, tutupan terumbu karang, serta laju kepunahan spesies endemik dan essentialis di suatu wilayah.

Lantas bagaimana seharusnya? Ia menilai, proses pembangunan harus selalu mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), baik dalam perencanaan, implementasi, maupun monitoring dan evaluasi. "Pembangunan lingkungan juga harus didukung hukum dan kebijakan," katanya. Salah satunya dengan mengkategorikan perusakan lingkungan sebagai tindakan kriminal.

Tentang hasil bahasan forum diskusi, Niel mengatakan prosesnya sudah menghasilkan gambaran dan kunci. Namun untuk bisa menjadi indikator kunci, ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Yaitu mudah dipahami,mudah melaksanakannya atau mengukurnya, dan bisa diterapkan secara reguler di banyak tempat.

Agar wacana ini bisa diadopsi pemerintah, maka harus ada lobi dan "pengerahan massa" atau tuntutan publik  untuk menyuarakan pentingnya indikator tersebut. Tuntutan sistematis dan partisipasi aktif dari civil society menjadi pertanda bahwa mereka "melek lingkungan", plus memahami proses dan sistem menggapai tuntutan.

Ia pun menyarankan agar mulai dibuka diskusi yang menggelinding dan membola salju agar indikator kinerja kunci menjadi bahasan umum dari masyarakat. Dengan demikian, kontrol terhadap pemerintah dari publik akan semakin baik dan matang. (khc)

DELAPAN ASPEK PENGUKUR
1. Kualitas dan kuantitas air.
2. Kualitas udara.
3. Efisiensi energi dan tingkat emisi karbon.
4. Ruang terbuka hijau.
5. Kebakaran hutan dan lahan.
6. Tutupan bakau.
7. Tutupan terumbu karang.
8. Laju kepunahan spesies endemik dan essentialis di suatu wilayah.
 

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved