kompas/priyambodo
Thai boxing juga digemari oleh kaum perempuan di Baan Muay Thai Club di kawasan Kemang, Jakarta Sela
Minggu, 31 Januari 2010 | 11:15 WITA
Dibandingkan dengan olahraga lain, thai boxing alias tinju thailand dianggap paling ”brutal”. Kaki, tangan, siku, dan lutut bebas dipakai menyerang lawan. Olahraga keras ini dikemas sebagai gaya hidup dan digandrungi kaum hawa di Jakarta.
Sesaat setelah turun dari mobil, Mitha (23) menyambar tas coklat berukuran besar. Malam itu, Rabu (27/1/2010), Mitha siap untuk berlatih thai boxing di Baan Muay Thai di Kemang, Jakarta Selatan. Di ruang latihan, Mitha mengganti roknya dengan kaus oblong berbahan katun. Celana legging warna abu-abu melekat ketat di tubuhnya. Rambut panjangnya digelung ke atas.
Sambil duduk di deretan sofa empuk yang ada di lobi ruang tunggu, perempuan yang tinggal di kawasan elite Cikini, Jakarta Pusat, itu membalut tangan dengan kain panjang sebelum latihan. Ia tampak sporty, tetapi tetap elegan dalam paduan pakaian semacam itu.
Dipandu seorang pelatih, Mitha mulai mengeluarkan pukulan jab, straight, hook, dan uppercut layaknya gerakan petinju. Ia juga berlatih menendang samsak dengan lutut dan tulang keringnya. Bak, buk, bak, buk... perempuan muda yang tampak lembut itu seketika berubah menjadi garang. Mitha ngos-ngosan.
Tiga bulan sudah Mitha bergabung dengan Baan Muay Thai. Ia memilih thai boxing karena olahraga ini bisa membuat tubuh lebih padat berisi. Selain itu, ia bisa belajar bela diri.
”Dalam sekali latihan saya dapat dua keuntungan, tubuh lebih indah dan saya bisa berkelahi melawan penjahat, he-he-he,” kata Mitha.
Di Baan Muay Thai, Mitha mengambil dua program sekaligus, yaitu cardio muay thai untuk pembentukan tubuh dan my muay thai yang fokus pada teknik bela diri thai boxing. Sebelum ikut thai boxing, Mitha dulu takut keluar rumah sendirian. Sekarang ia lebih percaya diri dan berani pulang sampai malam tanpa diantar.
Aida Gendre (38) juga memilih olahraga yang bisa menurunkan berat badan dan bela diri. Ia pun berlatih fit fighter di pusat kebugaran Gold’s Gym Elite Rasuna di Jakarta Selatan. Fit fighter adalah program menurunkan berat badan yang gerakannya diadaptasi dari gerakan bela diri lain, salah satunya thai boxing.
Saat berlatih, Aida tetap memakai kuku palsu agar jemarinya terlihat cantik. Beberapa kali kuku palsunya itu lepas saat ia memukul bantalan.
Bela diri
Menurut Abdul Rasyid, Manajer Baan Muay Thai, pusat kekuatan untuk melakukan gerakan thai boxing adalah pinggul. Dengan memutar pinggul, pukulan, tendangan, dan pukulan siku menjadi lebih bertenaga. Putaran di pinggul itu juga bisa membakar lemak dan membentuk otot di daerah perut, paha, dan pinggang sehingga olahraga ini cocok untuk perempuan.
Rasyid mengatakan, thai boxing mulai digemari perempuan kira-kira dua tahun belakangan. Sejak didirikan dua tahun lalu, Baan Muay Thai sudah memiliki 300 anggota yang aktif latihan. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 anggotanya adalah perempuan.
Di M Muay Thai Club yang berlokasi di Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat, separuh dari 80 anggotanya adalah perempuan. Oleh karena banyak peminat, M Muay Thai Club bahkan sudah membuka tempat latihan baru, di antaranya di Mal WTC Mangga Dua, Jakarta. ”Kami bekerja sama dengan pusat-pusat kebugaran untuk melatih thai boxing,” kata Marcos Manurung (29), pemilik sekaligus pelatih di M Muay Thai Club.
Menurut dia, mereka yang hidup di kota besar dengan tingkat kriminalitas tinggi, seperti Jakarta, mulai memilih jenis olahraga yang memiliki fungsi untuk membela diri. Para perempuan ayu tak segan ikut thai boxing karena tempat latihannya nyaman dan jauh dari kesan kekerasan. ”Kami mengemas tempat latihan thai boxing menjadi seperti pusat kebugaran,” kata Rasyid.
Di Baan Muay Thai ataupun M Muay Thai Club tidak ada ring di ruang latihan. Menurut Rasyid, kalau ada ring, orang menjadi ngeri karena membayangkan adegan pukul-pukulan hingga berdarah-darah seperti di film.
Ruang latihan thai boxing bagi perempuan kota ini berpenyejuk udara dengan lantai berlapis karpet yang terbuat dari karet. Sebagian dinding berlapis kaca sehingga mereka yang berlatih bisa memerhatikan gerakan-gerakan yang mereka peragakan. Musik R&B dan hip hop menjadi pengiring saat-saat para perempuan ini berlatih.
Tarif kursus sekitar Rp 350.000 untuk delapan kali pertemuan, ditambah uang pendaftaran Rp 100.000 per orang. Di kelas cardio, peserta hanya belajar gerakan dasar, seperti menendang, memukul, menyikut, dan menendang dengan lutut. Di kelas tersebut, peserta juga diajarkan teknik sederhana untuk menghindar dari lawan.
Sementara di kelas my muay thai, peserta kursus mempelajari teknik bela diri yang lebih lengkap dengan biaya Rp 300.000-Rp 550.000 untuk 4-8 kali pertemuan. Untuk kursus privat, biayanya lebih mahal lagi, sekitar Rp 2,5 juta per orang untuk delapan kali pertemuan.
Dengan fasilitas yang nyaman, thai boxing ”dibungkus” menjadi lebih kemayu. Buk... buk... buk..! (kompas.com)