|
|
|
/ Home / Selamat Pagi /
Selamat Pagi
Wanita Dugem dan Perokok
Uki M Kurdi Senin, 22 Februari 2010 | 06:32 WITA
SELAMAT hari Senin. Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan yang kemudian Anda dapat Kalimat di atas saya kutip dari ceramah Mario Teguh.sang motivator ulung. Lelaki yang nama aslinya Sis Maryono ini menunjukkan konsistensinya ketika dia menyatakan dalam media jejerang Twitter dengan menyebut, "perempuan yang suka dugem dan merokok tidak layak untuk dinikahi." Maksudnya, di media dunia maya itu Mario sedang memberikan sebuah tuntunan kebaikan perihal bagaimana cara memilih jodoh yang baik untuk dinikahi. Dari kalimatnya itu pula, kita mendapat kesan bahwa Mario mengetahui buruknya wanita penggemar dugem dan perokok. Dalam teori sosiologi, hubungan antarmanusia itu ditentukan oleh persepsi. Penilaian baik dan buruk terhadap seseorang juga dibangun oleh persepsi. Dari perspektif ini, maka wanita pedugem dan perokok yang tidak pantas untuk diperistri, adalah sebuah penilaian yang dipersepsilan oleh Mario Teguh. Kita memang hidup dalam dunia perspesi. Maka wajar bila dalam awal-awal pemunculannya, Mario yang lahir di Makassar tanggal 5 Maret 1956 pun dipersepsikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai nonmuslim. Karena, sosoknya yang western personal, selalu necis berbusana jas lengkap, selalu menggunakan kata Tuhan (bukan Alloh). Padahal sejatinya Mario Teguh adalah Jawa-Muslim. Itulah dunia persepsi. Dan pada dasarnya, setiap orang membangun persepsinya sendiri-sendiri terhadap orang lain, benda lain, atau kejadian tertentu. Perbedaan persepesi yang terjadi pada setiap orang, terbangun oleh kumpulan dari pengalaman, pengetahuan, agama/kepercayaan, serta tata-nilai yang dimilikinya. Semakin kaya seseorang dalam pengalaman dan pengetahuan maka semakin berbobot pula persepsi yang dimilikinya. Teori persepsi memberitahu kita bahwa tidak ada kebenaran mutlak menyangkut tata nilai di dalam masyarakat. Semua fenomena sosial adalah sebuah relativitas. Meskipun bersifat kebenaran relatif, namun teori sosial menyebutkan bahwa pada akhirnya akan terdapat kesamaan atas persepsi-persepsi pribadi yang kemudian melebur menjadi persepsi bersama, atau persepsi masyarakat. Bila hal ini yang terjadi, maka persamaan persepsi tersebut secara otomatis akan disepakati sebagai tata-nilai bersama dan kemudian akan menjadi norma dalam sistem sosial yang bersangkutan dan harus dipatuhi. Pertanyaannya adalah, apakah "wanita yang suka dugem, pesta, clubbing, dan perokok" sudah disepakati oleh seluruh komponen anggota masyarakat Indonesia, sebagai wanita yang tidak pantas dikawini? Mario Teguh nampaknya alpa untuk mengkajinya lebih dulu secara sosiologis. Sehingga wajar bila dengan pernyataan yang berbau negatif thinking tersebut (padahal Mario adalah penganjur utama positif thinking), para sosiolog kemudian menilai, "Kali ini Mario telah terjebak ke dalam persepsi pribadi." Maksudnya, kalimat Mario yang menyebut "Wanita yang pantas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai pagi, chitcat yang snob, merokok dan kadang mabuk, tidak mungkin direncanakan jadi istri" belumlah menjadi persepsi bersama. Yaitu persepsi yang sudah dimiliki dan disepakati menjadi kebenaran yang relatif, dan dengan demikian dijadikan norma yang berlaku bagi seluruh anggota masyarakat. Relativitas kebenaran tata-nilai dan norma masyarakat bahkan menjadi semakin pelik, manakala hal tersebut berkaitan dengan urusan life style. Dugem, clubbing, dan merokok, yang dilakukan oleh wanita adalah bagian dari gaya hidup. Life style ini oleh sebagaian kelompok masyarakat strata menengah atas atau etnis tertentu, dipersepsikan sebagai sebuah kewajaran bukan sebuah indikator untuk menilai baik-buruknya wanita calon istri. Dengan pendekatan ini, maka persepsi Mario Teguh tentang wanita pedugem dan perokok yang tidak pantas untuk dipilih jadi istri, nampaknya ditujukan bagi strata sosial tertentu. Bukan ditujukan untuk strata sosial atau kelompok etnis yang selama ini menganggap bahwa wanita pedugem dan perokok adalah sebuah kewajaran karena hal itu merupakan bagian dari life style mereka.. Itulah risiko bagi publik figur, utamanya yang dibesarkan oleh kekuatan pencitraan media massa. Ia akan menjadi pusat sorotan, karana apa saja yang diucapkannya atau dilakukannya akan dipersepsikan sebagai sebuah kebenaran atau dijadikan panutan oleh masyarakat penggemarnya. Kita tidak berharap Mario Teguh bernasib sama dengan Aa Gym, yang kini pudar popularitasnya gara-gara tersandung poligami. Saya pun yakin bahwa pernyataan Mario tentang calon istri pedugem dan perokok adalah sebuah tuntunan kebaikan yang perlu dipertimbangan sebagai pilihan bagi mereka yang mempecayainya. Menurut saya, pernyataan Mario juga hanya akan melahirkan resistensi yang tidak terlalu fatal. Ia akan berupa gejolak sesaat saja. Pembaca yang saya hormati. Silakan meneruskan membaca berita-berita sajian Tribun Kaltim edisi cetak dan online. Kami berharap kiranya sajian-sajian kami selalu selaras dan sesuai dengan persepsi seluruh pembaca, berkaitan dengan penilaian terhadap koran yang berkualitas dan bermanfaat.
komentar
|
advertisement
|