|
|
|
/ Home / Travelling /
Travelling
Kebaya Encim,
kebaya encim Kamis, 25 Februari 2010 | 12:05 WITA
Jika edisi kemarin David Kwa, pengamat budaya Tionghoa peranakan, membahas papakean Babah (pria Tionghoa peranakan). maka hari ini giliran papakean Nyonya (perempuan Tionghoa peranakan). Hingga awal abad 20, Nyonya di Jawa memakai baju kurung dengan bawahan sarung batik. Baju kurung, jelas David, seperti orang mengenakan t-shirt. Di belahan bagian bawah disematkan semacam bros disebut krongsang. Setelah baju kurung muncullah baju panjang yang terbuka di bagian depan, mirip kebaya panjang. Bersamaan dengan berdirinya Tiong Hoa Hwe Koan (THHK) pada 1900, muncul pula mode baru, baju peh-ki yang dipakai bersama hoa-kun, semacam rok lipit yang dipakai di luar celana panjang. Mode ini digemari generasi muda, khususnya murid THHK. Era kebaya dimulai manakala Belanda membuka Hollandsch Chineesche Schoolen - sekolah berbahasa pengantar Belanda bagi anak-anak Tionghoa. Kebaya renda adalah awal mula era kebaya. David menyatakan, kebaya renda terbuat dari bahan putih transparan dengan tepi yang dihias renda halus berukuran lebar buatan Swiss. Model kebaya ini dimulai oleh Indo Belanda di penghujung abad 19, kemudian menjadi identitas perempuan Tionghoa peranakan dan dikenal luas sebagai "kebaya encim". Warna kebaya encim tetaplah putih sebagai tanda bahwa pemakainya adalah perempuan baik-baik. Sebagai padanan kebaya, Nyonya lebih menyukai sarung daripada kain panjang. Sarung batik yang disukai kaum Nyonya, lanjut David, kebanyakan produksi dari kota-kota di pesisir utara Jawa seperti Pekalongan, Kudus, Rembang, dan Lasem. Ciri khas batik tersebut adalah warna yang ceria dengan ragam hias Eropa dan Tionghoa. Setelah Perang Dunia II, berkembang pula kebaya encim jenis lain, yaitu kebaya borduur (bordir) dan krancang. Keduanya punya kombinasi warna lain - tak melulu putih. Kebaya bordir bermotif flora fauna disulam dengan mesin, sedangkan krancang tak hanya disulam tapi juga dilubangi di bagian tertentu dengan gunting kecil. Jika baju kurung awalnya diambil dari papakean orang Melayu maka kebalikan dengan kebaya borduur yang kemudian diikuti oleh orang Melayu.
komentar
|
advertisement
|