|
|
|
/ Home / Selamat Pagi /
Selamat Pagi
Lampion Merah
Uki M Kurdi Senin, 1 Maret 2010 | 10:16 WITA
SELAMAT hari Senin. Menurut kalender Cina, tahun ini adalah Tahun Macan dari unsur logam. Ia disimbolkan sebagai macan yang suka jalan?jalan. Maknanya, siapa yang ingin bisnisnya lancar, ia harus aktif, tidak stay di satu tempat. Mereka yang diam menunggu justru akan diterkam sang macan. Begitulah menurut seorang peramal. Malam itu rumah indah berupa sebuah castle milik Songlian terang benderang oleh cahaya yang dipancarkan dari ratusan lampion berwarna merah. Itu pertanda bahwa sebagai istri keempat, ia sedang mendapat giliran dari suaminya, Tuan Chen, seorang juragan kaya raya. Sementara Songlian melayani nafsu seks tuan Chen, intrik?intrik licik ditebarkan oleh istri pertama, kedua, ketiga, bahkan oleh para selir dan gundiknya. Itulah gambaran sepintas dari film Raise the Red Lantern, yang dibintangi oleh artis cantik Gong Li. Film ini hasil garapan sutradara kelas dunia asal Cina, Zhang Yimou. Film Raise the Red Lantern berhasil masuk nominasi Best Foreign Film di ajang Oscar tahun 1991. Jumat tanggal 19 Februari lalu, film ini diputar oleh masyarakat pecinta film di sebuah rumah di depan Universitas Hamka, Jl Ahmad Dahlan, Jakarta, dalam rangka merayakan Tahun Baru Imlek dan Hari Valentine yang tahun ini jatuh bersamaan. Lentera Merah (Red Lantern) diangkat dari novel Wives And Concubines karya Su Tong. Film ini bercerita tentang getirnya nasib seorang selir di tahun 1920?an. Waktu itu masa Dinasti Manchu. Peran utama cerita difokuskan pada sosok Songlian (Gong Li), gadis Waktu itu, di Cina, anak perempuan berparas cantik adalah investasi tersendiri. Jika bisnis kita sedang bangkrut atau kondisi keuangan sedang terpuruk, tak perlu pusing?pusing dan khawatir. Nikahkan saja anak putri kita kepada pria kaya, meskipun hanya menjadi selir. Kisah yang kuat dengan tuturan dan struktur yang lancar dan mudah dicerna, diperkuat dengan akting Gong Li yang nyaris tanpa cacat, serta direkam dengan kejeniusan visual yang menakjubkan, menjadikan film Red Lantern memberi kesan sebagai sebuah masterpiece yang melampaui berbagai definisi, dan membuat kita rugi bila tidak menontonnya. Gong Li memerankan Songlian dengan daya pikat yang meluap?luap dan sangat cantik. Gong Li memang selalu mampu mengekspresikan rentang emosi yang cukup luas hanya dengan sekilas ekspresi saja. Hal ini yang telah membuat banyak penonton jatuh cinta padanya. Untuk alur cerita seperti ini, tentu bukan peran yang asing bagi Gong Li. Dia pernah memikat pemirsa menjadi geisha (Memoir of A Geisha, bersama Zhang Ziyi dan Michelle Yeoh). Gong Li juga pernah apik berperan sebagai permaisuri yang merana dalam The Curse of Golden Flowers. Menyalakan lentera dalam lampion warna merah, adalah tradisi keluarga Chen, sebagai simbol kebahagiaan (yang dalam fim Red Lantern lebih berkonotasi seksual). Namun demikian, simbolisasi seperti ini sesungguhnya sudah berlangsung turun?temurun di negeri Tiongkok sejak zaman Dinasti Han, 2000 tahun yang lalu. Kemudian, di zaman dinasti Tang, sekitar 1.300 tahun lalu, lampion warna merah dijadikan tradisi baru di tanah Tiongkok sebagai syarat utama dalam merayakan Cap Go Meh. Pada masa tersebut, seluruh pelosok negeri akan dipenuhi oleh lampion, sebagai lambang negara yang makmur dan berkecukupan. Itu pula yang menyebabkan di zaman sekarang Cap Go Meh juga dinamakan sebagai Festival Lampion. Tadi malam (28/2), Rekor MURI juga dipecahkan di Itulah semarak perayaan Cap Go Meh di beberapa daerah di Nusantara. Cap Go Meh melambangkan hari ke?15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek bagi komunitas kaum migran Tionghoa yang tinggal di luar Cina. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama. Saat itu juga merupakan bulan penuh pertama dalam Tahun Baru tersebut. Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan, namun tetap dengan ciri khas lampion warna merah. Tradisi membuat dan menyalakan lampion berkembang pada masyarakat Cina dan Jepang. Lampion Cina biasanya terbuat dari bahan kertas minyak, sedangkan lampion Jepang terbuat dari rice paper. Bagi masyarakat etnis Tionghoa, lampion merah labih terkait dengan acara ritual keagamaan, sedangkan di Jepang selain untuk ritual keagamaan juga lazim digunakan sebagai penerangan dalam ruangan di zaman kini. Seperti halnya dengan masyarakat Jepang yang kita kenal sebagai bangsa yang maju namun tetap kuat memegang teguh akar?akar tradisi mereka, maka sesungguhnya kita semua bisa belajar banyak dari mereka. Tradisi Imlek dengan sederetan ritualnya termasuk ritual yang berkaitan dengan lampion, sesungguhnya dapat pula menjadi pondasi budaya yang kuat untuk kemajuan kita sebagai bangsa Kita tahu, masyarakat Tionghoa umumnya menerjemahkan ajaran agama Konghucu dalam bentuk simbol?simbol untuk pedoman kehidupan sehar?hari mereka. Semua simbol yang disepakati, memiliki kandungan makna sendiri?sendiri yang mereka yakini sebagai kebenaran yang berakar pada tradisi. Maka, saya pun yakin bahwa lampion merah sesungguhnya mengandung simbolisasi yang dalam yang bila kita cerdas memaknainya, tentu akan bisa dijadikan salah satu daya dorong untuk kemajuan negara seperti majunya Repubklk Rakyat Cina saat ini. Pembaca yang saya hormati. Silakan membaca berita?berita sajian Tribun Kaltim edisi cetak dan online hari ini. Kami berharap kiranya sajian?sajian kami dapat menambah dan memperkaya informasi yang pembaca butuhkan. Mohon jangan lupakan tradisi yang baik saat kita akan melangkah maju menuju peradaban modern. Salam. (*)
komentar
|
advertisement
|