|
|
|
Salam
Akankah SBY Minta Maaf?
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono Kamis, 4 Maret 2010 | 10:40 WITA
MENURUT pewayangan, awal Maret 2010 ini,
Para aktivis politik juga bergiat melakukan antisipasi dan tidak mustahil merancang aksi politik yang terkait dengan current and hot issue, seakan tidak ingin ketinggalan kereta untuk terus menggelindingkan Gerakan Indonesia Bersih, sampai Aliansi Masyarakat Korban Lapindo dan Bank Century.
Bagi media komunikasi, proses Hak Angket Century memang mendapatkan porsi yang sangat luar biasa. Selama periode waktu tersebut suratkabar itu secara konsisten menyajikan berita Kasus Bank Century sebagai berita di halaman pertama. Media cetak dengan predikat the political news leader di Indonesia nyaris hampir setiap hari penerbitan memunculkan berita Kasus Bank Century selama periode itu dengan perbandingan 1 (bukan berita Bank Century) berbanding 40 (berita kasus Bank Century) sebagai berita utama (headline).
Dan dampak pemberitaan tersebut hampir dapat dipastikan dapat menambah pengetahuan dan informasi masyarakat akan Kasus Bank Century (knowledge building) yang pada gilirannya menimbulkan sikap (attitudes) masyarakat bahkan persepsi terhadap kasus Bank Century dan akhirnya dapat mendorong tindakan (practice) masyarakat sebagai reaksi atau respon terhadap hasil kerja Pansus Bank Century dan penanganan pemerintah terhadap raibnya Rp 6,7 triliun uang negara untuk bailout Bank Century.
Lalu...sudah berkali-kali pula, rakyat terus menerus bergerak mengadakan unjuk rasa, karena ini satu cara untuk mengungkapkan isi hati, pikiran dan perasaan serta tindakan dari para pelakunya baik individu, kelompok atau organisasi. Aksi unjuk rasa dapat berbentuk aksi protes atau berbentuk aksi kontra terhadap suatu kasus tertentu yang dalam hal ini ditujukan terhadap hal?hal yang terkait dengan kasus Bank Century. Aksi atau reaksi masyarakat dengan berunjuk rasa dijamin dengan peraturan perundangan.
Salah..salah menangani aksi unjuk rasa bisa saja segera membangkitkan aksi lebih besar yang disebut dengan people power. Apabila pemerintah tidak bisa segera menimbangi isu ini, memang bisa menjadi runyam. Situasi seputar kehidupan masyarakat saat ini seperti naiknya harga beras cukup mahal meskipun harga minyak goreng masih disubsidi, harga ikan asin yang menngkat karena nelayan kesulitan melaut akibat cuaca buruk, ancaman PHK yang meningkat dan akan meningkat karena pemberlakuan Pasar Bebas ASEAN?China, dampak banjir dan longsor.
Sikap dan tindakan apapun yang akan menjadi opsi pemerintah dalam menyelesaikan kasus Bank Century menjadi pertanggungjawaban pemerintah kepada rakyat akibat raibnya Rp. 6,7 triliun uang negara. Pertanggungjawaban pemerintah atas kasus Bank Century etikanya harus disertai permohonan maaf kesalahan pemerintah kepada rakyat, karena banyak rakyat yang menjadi korban kasus Bank Century.
Permintaan maaf pemerintah kepada rakyat bukanlah aib dan hina bagi pemerintah karena rakyat sebenarnya adalah pemegang kedaulatan politik tertinggi dan kekuasaan yang dipegang pemerintah adalah bersumber dari suara dan kekuatan rakyat. Pemerintah tentunya secara ideal ingin tetap menjunjung tinggi nilai?nilai hakiki 'demokrasi' (pemerintah dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat).
Kalaulah jalan ini ditempuh, tampaknya bisa mengangkat kembali 'kemenangan' SBY yang selalu berbekal pada nuansa nelongso, teraniaya, tersudutkan dan sangat menderita. Lagu lama ini seandainya dikemas secara apik, dengan bahasa komunikasi tanpa menggunakan style Andi Arief, si staf ahli Presiden yang sudah keluar rel itu. Kalaulah Presiden bersedia melakukan itu, rasa-rasanya bangsa ini menerima secara legowo. (*) komentar
|
advertisement
|