Selamat Pagi
Anak Mami
IST
Uki M Kurdi
Senin, 8 Maret 2010 | 10:34 WITA

SELAMAT hari Senin. Mari kita jalani hidup ini dengan penuh senyum. Karena dengan senyum kita bisa memberi kesejukan bagi orang lain di sekitar kita termasuk bagi keluarga dan anak-anak kita.

Dalam tradisi Jawa,  anak yang sudah berusia dua tahun harus disapih. Caranya dengan mengoleskan cairan widara laut (Ximenia americana) pada puting susu ibu. Karena rasa widara laut pahit sekali, maka lama-kelamaan si anak tidak mau netek lagi.

Widara laut adalah salah satu bahan untuk menyapih. Di Sumatera ibu-ibu mengoleskan gambir yang ditumbuk halus dicampur air lalu dioleskan ke puting. Di Kalimantan mengunakan pasak bumi. Intinya, selain untuk menghentikan anak menyusu, tradisi menyapih juga dilakukan orang tua untuk melanjutkan reproduksi alias "membuat" anak lagi.

Harry Potter punya teman sekaligus saudara sepupu bernama Dudley Dursley. Dalam serial buku best seller ini, Dudley dilukiskan sebagai lelaki dengan sosok yang berbadan tambun dengan rambat lurus hitam disisir mering ke kakan. Meski punya hubungan saudara namun Dudley sering berlaku jahat  dan pemarah kepada Harry.
    
Kedua orang tuanya,  Vernon Dursley (ayah) dan terutama ibunya, Petunia Evans,  sangat memanjakan Dudley. Apa saja permintaan dan kemauannya, diberi dan dituruti. Ini menyebabkan Dudley tumbuh sebagai anak yang pemarah, suka mengadu, tidak mandiri, dan selalu berlindung di balik ketiak ibunya. Dudley adalah tipikal anak mami.
    
Lelaki anak mami, dalam literatur ilmu psikologi, dikategorikan dengan karakteristik sebagai berikut. Pertama, egoistis. Artinya, ia hanya akan memerhatikan kepentingan diri sendiri. Kalaupun ia memberi perhatian kepada teman-temannya, sesungguhnya itu dilakukan untuk kepuasan diri sendiri, utamanya dalam rangka memperoleh sanjungan Jadi, kalau si teman tidak pernah memberikan sanjungan kepadanya, maka ia akan marah. Karena, bagi anak mami, teman itu bisa dibeli.
    
Kedua, anak mami biasanya diidentifikasikan sebagai egosentris. Maknanya, ia akan menjadikan dirinya sebagai pusat dari segala aktivitas yang dilakukan. Yang dia suka dia lakukan, yang tidak disuka tidak akan ia kerjakan.
    
Karakteristik lainnya, bila kelak sudah beristri dan berkeluarga, maka anak mami bisanya: Tidak memiliki daya juang untuk kemajuan kehidupannya. Tidak memiliki rencana dan antisipasi masa depan yang jelas dan baik bagi diri dan keluarganya. Malas berpikir dan hanya menjadi sosok penikmat. Tidak bertanggung jawab dan mengandalkan tanggung jawab keluarga masih juga kepada maminya.
    
Dalam psikologi, lelaki anak mami dikategorikan sebagai produk dari pola asuh yang ditandai dengan pemanjaan berlebihan secara materiil dan moril. Dengan pola asuh seperti itu, anak dibiasakan mendapat segala yang diinginkan tanpa usaha. Bahkan, sebelum anak meminta, biasanya orang tua sudah membelikan barang-barang yang menurut orangtuanya akan disenangi anak tersebut.
    
Di tengah-tengah kita dalam kehidupan masyarakat, sesungguhnya semakin banyak saja hasil produk salah asuh seperti ini, sehingga kian menambah jumlah anak mami. Boleh jadi, itu disebabkan oleh kemakmuran yang semakin merata di negara kita, dan kian banyaknya jumlah anggota masyarakat yang hidup sejahtera secara ekonomi.
    
Dan, banyaknya orang tua yang melakukan salah asuh dengan memanjakan anak secara berlebihan, yang pada gilirannya melahirkan banyaknya anak mami, secara umum disebabkan oleh alasan yang hampir sama.
    
Alasan-alasan klasik itu misalnya dengan dalih, "Untuk siapa lagi uang ini kalau tidak untuk menyenangkan anak" atau "Saya kerja mati-matian kan untuk anak." Pemanjaan seperti ini juga sering dipicu oleh rasa derita dan getirnya hidup miskin sang orang tua di masa lalu. Maka, ia pun tidak mau bila anaknya menderita seperti halnya mereka dulu.
    
Dalam perspektif yang lebih luas, produk zaman berupa kian banyaknya anak mami ini, konon telah memberi andil pada kian sedikitnya ditemukan kader anak bangsa yang punya semangat mendiri dan berani bertanggungjawab.
    
Hal lain yang lebih mengejutkan, menurut sebuah survei yang dilakukan oleh sebuah lembaga penelitian psikologi sosial di Jakarta, menyebutkan bahwa kian banyak rumah tangga yang gonjang-ganjing disebabkan oleh anak mami. Anak mami yang tidak bertanggung jawab, anak mami yang lari ngacir ke pangkuan ibunya ketika ada masalah di rumahtangganya.
    
Yang lebih ekstrem lagi, kian banyak pula ditemui mertua wanita yang melakukan intervensi dengan mendikte istri "amak mami." Alasannya, karena sang mami tetap memanjakan anak lelakinya, tak mau melihat anak lelaki hidup dengan berbagai masalah, meski realitanya anak lelakinya itu sudah menjadi suami dan kepala rumah tangga.
    
Dengan demikian, maka fenomena anak mami, menjadi sangat kontekstual untuk kita kembali menghargai dan menghidupkan kearifan lokal (local wisdom) dalam tradisi menyapih bayi. Karena, sesungguhnya semangat dari tradisi menyapih bayi adalah "melepas ketergantungan anak dari oirang tua, utamanya dari sang mami."
    
Dengan menyapih, orang tua kita di zaman dulu, juga menghendaki agar si anak bisa hidup mandiri. Sehingga kelak si anak tidak akan menjadi anak mami.
    
Pembaca yang saya hormati. Silakan melanjutkan membaca berita-berita sajian Tribun Kaltim edisi cetak dan online hari ini. Kami berharap kiranya sajian kami bisa memberi manfaat sebanyak-banyak bagi pembaca sekalian.
    
Mohon kiranya untuk tidak lupa menjaga local wisdom dari tradisi nenek moyang kita yang masih relevan kita pertahankan. Karena sesungguhnya bangsa-bangsa maju seperti bangsa-bangsa Eropa dan Amerika, kini pun sedang mencari-cari tatanan nilai lama dengan cara kembali pada local wisdom dari akar budaya mereka. Maka, sungguh merupakan ironi bila kita justru mencampakkannya. Salam. (*)
 

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved