Senin, 8 Maret 2010 | 13:10 WITA
BANDUNG, TRIBUN - Dua pendaki gunung anggota kelompok pecinta alam Wanadri, Ariady Fallah dan Dani Prasetya tewas setelah tersambar petir di puncak Gunung Sunda, Sabtu (6/3/2010).
Okky Parasatyo (20), seorang anggota Wanadri yang selamat dalam kejadian di Gunung Sunda, Sabtu sore kemarin, menuturkan, kejadian yang menimpa mereka bermula saat mereka berhasil menempuh puncak Gunung Sunda, Sabtu sore.
Saat melihat langit mendung, delapan anggota yang terdiri dari dua regu, yaitu Ariady Fallah, Dani Prasetya, Okky Parasatyo, Rizki (19), Riyadi (24), Lili Mahfudin (32), Yuri Alfa Setauri (22), serta Nisa (19), mendirikan tenda di puncak gunung itu. Sesaat kemudian, turun hujan yang sangat lebat disertai sambaran petir.
Okky menceritakan, saat hujan lebat turun, mereka masih sempat melakukan hubungan komunikasi dengan dua regu lainnya yang juga berjumlah delapan orang yang masih berada di bawah. Sambil menunggu delapan anggota lainnya datang, Okky dan rekan-rekannya menunggu di tenda sambil berteduh.
Saat itu, jelas Okky, Deni Prasetya yang merupakan Komandan Regu Dua, yang merupakan regu Okky, sedang memasak sesuatu di pokoh tenda. Di sebelahnya, Ariady Fadillah, Komandan Regu Tiga, memegang alat komunikasi.
"Pada saat Ariady mematikan radio itulah, petir datang menyambar tenda kami," kata Okky, warga Jalan Babakan Priangan 178/203, saat ditemui Tribun di rumah orang tuanya di kawasan Jalan Taman Hewan, Tamansari, Bandung, Minggu (7/3) malam.
Begitu keras dan dahsyatnya hantaman petir, terang Okky, mereka semua yang berada dalam tenda langsung terpental ke luar tenda, sementara tenda itu sendiri langsung roboh dan robek hangus di beberapa bagian, terutama bagian pojok tempat Deni dan Ariady berada.
Saat terpental, Okky dan keenam rekannya masih tersadar. Namun saat itu, dia merasakan matanya masih silau dan diselimuti cahaya keungu-unguan.
Saat itu, Okky dan kelima rekan lainnya yang masih sadar, langsung mencari tempat berteduh. Saat itulah mereka melihat jika Dani dan Ariady masih terbaring dan tidak bergerak sama sekali. Mereka tidak langsung memeriksa keadaan kedua rekannya karena takut petir akan menyambar lagi.
Baru setelah hujan agak reda, kata Okky, dia dan rekan-rekannya memeriksa keadaan Deni dan Ariady. "Saat itu kami melihat tubuh kedua rekan kami tidak bergerak sama sekali," ujar Okky yang saat disambar petir merasakan kakinya lumpuh sebelah hingga malam tadi.
Begitu mengetahui sesuatu terjadi dengan kedua rekan mereka, keenam anggota yang selamat mulai menghidupkan alat komunikasi kembali dan menerangkan peristiwa yang baru mereka alami termasuk kondisi Deni dan Ariyadi yang diduga saat itu sudah meninggal.
Okky ingat, sambil menunggu bantuan datang, mereka terus melakukan komunikasi dengan semua anggota termasuk PMI dan senior-senior mereka hingga tengah malam. Proses evakuasi sendiri, menurut Okky baru dilakukan pukul 01.00 malam atau Minggu dinihari tadi. "Seingat saya, kami tiba di rumah sakit di Bandung sekitar pukul 05.00 pagi," ujarnya.
Dari pantauan Tribun di RSHS, kedua jenazah Deni dan Ariyadi diambil oleh pihak keluarga masing-masing pukul 10.00 Minggu kemarin, sementara keenam anggota Wanadri yang selamat baru diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit pada pukul 12.30. (set/tribun jabar)