Selasa, 9 Maret 2010 | 10:23 WITA
BERBAGAI kalangan Muslim telah familiar dengan hiasan kaligrafi. Baik berupa hiasan dinding, ornamen tempat ibadah, maupun digital file di dalam teknologi komputerisasi. Namun belum banyak diantara mereka yang memahami seni membuat kaligrafi, apalagi menggelutinya.
DI Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terdapat satu komunitas yang berkonsentrasi pada pengembangan seni kaligrafi Islam. Tak hanya menggeluti, mereka juga membina pada pegiat kaligrafi, yang diistilahkan kaligrafer, di berbagai kecamatan di Kutim.
Komunitas tersebut bernama Lembaga Kaligrafi Islam (Lemkari) Nasta'liq. Ketua Lemkari Nasta'liq, Zakaria, menjelaskan lembaganya dibentuk pada tahun 2006. Saat itu sedang dilakukan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Kecamatan Sangkulirang. "Saat itu kami menjadi dewan hakim kaligrafi MTQ. Beberapa kafilah (kontingen,red) berbincang dengan kami, untuk meminta pembinaan langsung dari pakar kaligrafi Kutim," katanya.
Biasanya, kafilah harus mendatangkan pembina dari luar Kutim atau luar Kaltim, sehingga biayanya mahal. "Saat itu kami berembug, dan memutuskan akan membentuk lembaga kaligrafi di Kutim untuk melakukan pembinaan," kata Zakaria. Zakaria lantas mengajak beberapa kenalannya yang berpengalaman dan ahli di bidang kaligrafi untuk bergabung. Saat itu ada 12 kecamatan yang mengajukan permohonan pembinaan.
Selain melakukan pembinaan kafilah, para pembina yang bernaung dalam Lemkari Nasta'liq juga aktif berkarya swadaya. Biasanya, mereka membuat karya untuk kepentingan komersial dengan berbagai medium. Karya mereka pun cukup diterima konsumen Kutim, dan kerapkali dipamerkan. "Bahkan para pembina kerapkali diminta membantu membuat ornamen kaligrafi untuk bangunan masjid," kata Sekretaris Lemkari Nasta'liq, Muhammad Arafah. Pengalaman berkelanjutan inilah yang membuat keterampilan para pembina terus terasah.
Zakaria mengatakan, selama aktif di lembaga tersebut, terdapat beberapa pengalaman yang berkesan. Diantaranya, menjuarai dan mencetak juara lomba kaligrafi. Selain itu, bisa berinteraksi dengan para pejabat daerah. "Namun kami juga masih terbentur pada pendanaan. Padahal, pengembangan seni kaligrafi membutuhkan dukungan pendanaan yang memadai," katanya.(khc/tribunkaltim cetak)