/ Home / Sangatta /
Sangatta
Lebar Jalan 100 Meter

Selasa, 9 Maret 2010 | 22:23 WITA

SANGATTA – Investor Ras Al-Khaimah, Uni Emirat Arab, melalui anak perusahaannya, PT Trans Kutai Kencana (TKK) akan membangun rel kereta api pengangkutan batu bara bersebelahan dengan jalan hauling atau jalan angkut batu bara dengan dump truck. Tapi sejauh ini belum dipastikan kapan pembangunan bakal dimulai.

Menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kutim, Didi Suryadi, Selasa (9/2), melalui dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang dimiliki perusahaan tersebut diketahui bahwa panjang rel yang akan dibangun mencapai 150 kilometer. Dimulai dari Muara Wahau, Kongbeng menuju Bengalon.

Dokumen Amdal sudah disetujui Bupati Kutim, 3 Agustus 2009 lalu."Jalan dan rel kereta api khusus sepanjang 150 kilometer dan lebar 100 meter akan melalui daerah dataran dan memotong daerah perbukitan dengan rencana gradien kemiringan 1 sampai 2%," kata Didi.

Rel akan melintasi beberapa sungai, bersimpangan dengan jalan umum, serta melalui dan dekat dengan permukiman dan lahan perkebunan masyarakat. Jalur transport utama yang akan dibangun adalah jalur kereta api pengangkut batu bara. Namun akan dibangun juga jalur pengangkutan dengan dump truck melalui hauling road. "Tujuannya untuk mengangkut batu bara dari area tambang menuju pelabuhan, sebelum jalur kereta api dapat difungsikan," kata Didi.

Secara teknis, hauling road dan jalur rel kereta api akan dibangun berdampingan atau terpisah dalam koridor 100 meter yang dibebaskan dari aktivitas lain. Rancangannya, jalur kereta api selebar 9,31 meter, dan hauling roadnya selebar 10 meter.

Jalur kereta api yang dibangun dipersiapkan untuk memakai 2 jalur (double track). "Namun untuk tahap awal hanya satu jalur. Rel yang kedua dipersiapkan untuk mengantisipasi penambahan kapasitas angkut," katanya. Kegiatan operasi jalan dan rel diasumsikan dapat mengangkut batu bara sejumlah 30 juta ton per tahun.

Moda transport utamanya adalah kereta api yang ditarik oleh tiga lokomotif diesel sepanjang 22 meter.  Lokomotif tersebut terangkai dengan 140 unit gerbong dengan kapasitas 120 ton per gerbong. "Dengan panjang masing-masing gerbong 16,87 meter, maka total panjang kereta api khusus tersebut 2.428 meter atau hampir mencapai 2,5 kilometer," katanya.

Investor juga akan melakukan aktifitas tambang. "Investor berafiliasi dengan PT Tekno Orbit Persada yang akan memproduksi lebih dari 30 MTPA dari area muara Wahau dengan luas lahan 12.100 Hektar," kata Didi. Investor juga menargetkan bisa menambang 30 juta ton batu bara per tahun.

Didi menjelaskan, dokumen Amdal juga memuat rencana detail dalam tahap pra konstruksi, konstruksi, operasional, dan pasca operasi. "Pembangunan hingga tahap operasi memakan waktu 36 bulan atau 3 tahun. Sedangkan tahapan operasional akan berlangsung sepanjang umur tambang yang diperkirakan mencapai 50 tahun," katanya. (khc)

Lahan Sawit Alot

Trans Kutai Kencana (TKK), terus melakukan berbagai persiapan pembangunan rel kereta api di Kutai Timur. Pembangunan rel sepanjang 150 kilometer yang menghubungkan Muara Wahau dan Bengalon ini masih dalam tahap pembebasan lahan.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setkab Kutim, Ismunandar, mengatakan berdasarkan informasi yang diterima Pemkab Kutim, pembebasan lahan kini sudah mencapai 120 kilometer dari 150 kilometer yang direncanakan. "Mereka mengatakan masih kurang 30 kilometer. Karena itu akan kita fasilitasi pembebasannya," kata Ismunandar.

Kendala pembebasan adalah lahan milik perusahaan perkebunan sawit. Negosiasinya cukup alot. "TKK meminta kami memfasilitasi pembebasan lahan perkebunan sawit, karena negosiasi antarperusahaan ternyata belum menemukan titik temu," katanya.

Pemkab Kutim yang sejak awal berkomitmen memberi kemudahan pada investor akan mengundang pihak terkait pekan ini. "Kami akan undang beberapa pihak terkait untuk membahas pembebasan lahan perkebunan pekan ini. Tapi belum ada kepastian harinya," katanya.

Dalam pertemuan tersebut, Pemkab juga akan meminta TKK mempresentasikan perkembangan dari berbagai aktifitas mereka. Presentasi tersebut dinilai penting, agar Pemkab mengetahui perkembangan kegiatan investor sekaligus memetakan dan memecahkan permasalahan.

Sedangkan untuk tanah rakyat, Ismunandar mengatakan sebagian besar sudah ada kata sepakat. "Sebagian lain belum deal, tapi sudah ada titik terang. Masyarakat juga sudah bersedia melepaskan lahannya," katanya.

Saat ini di lapangan belum ada aktifitas pengangkutan alat berat dan material. Hal ini karena investor masih berkonsentrasi pada pembebasan lahan. "Investor sudah mendapatkan izin penggunaan jalan dari Kementrian Pekerjaan Umum. Tapi hingga saat ini belum ada mobilisasi alat dan material," katanya.

Sehubungan dengan penggunaan jalan negara, maka investor akan melebarkan, meningkatkan, dan memelihara jalan yang digunakan. Hingga saat ini juga belum ada informasi jadwal peletakan batu pertama. Ismunandar pun menegaskan, bahwa Pemkab dan tim koordinasi lintas sektor akan berupaya membantu mewujudkan kemudahan investasi.

Investor Uni Emirat Arab tersebut melalui holding internasionalnya telah membentuk tiga anak perusahaan di Kutim. Yaitu, Trans Kutai Kencana (TKK) yang membangun rel kereta api Muara Wahau-Bengalon, Trans Kutai Bahari yang membangun pelabuhan di Bengalon, dan Indo Rak Resources yang menambang batu bara di lahan seluas 12.100 Hektar. (khc)
 

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved