Konservasi
Beruang Madu Terancam Punah
IST/Beruangmadu.org
Beruang madu atau Malayan sun bear (Helarctos malayanus) di KWPLH Balikpapan
Jumat, 9 April 2010 | 10:45 WITA

* Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Ahmad Bayasut

BALIKPAPAN, TRIBUNKALTIM.co.id-  Peneliti asal Ceko, Stanislav Lhota, M.sc, Ph.D  memberi kabar mengejutkan bagi kota Balikpapan. Selama beberapa tahun penelitiannya di Hutan Lindung Sungai Wain dan Pesisir Teluk Balikpapan, dirinya memberi sinyal mengkhawatirkan bagi spesies yang terancam punah. Salah satunya adalah maskot kota Balikpapan adalah hewan Beruang Madu.

 

Dari data yang menjadi pegangan Stanis adalah IUCN Red List mencatat sebanyak 8 jenis mamalia yang ditemukan di Balikpapan terancam punah (Endangered) secara global, seperti Bekantan (Nasalis larvatus), Uwa-uwa Kalimantan (Hylobates muelleri), Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), Trenggiling (Manis javanica), Musang Air Bennet (Cynogale bennettii), Berang-berang Sumatera (Lutra sumatrana), Kucing Tandang (Prionailurus planiceps) dan Kucing Merah (Pardofelis badia). Selain itu, terdapat  17 spesies yang termasuk kategori rentan (Vulnerable). Seperti Beruang Madu (Helarctos malayanus), yang merupakan satwa maskot Balikpapan, dan juga Binturong (Artictis binturong), Macan Dahan (Neofelis diardii), Kucing Batu (Pardofelis marmorata), Pesut (Orcaela brevirostris) dan Duyung (Dugong dugon).

 

Stanis menganggap keanekaragaman mamalia dan binatang lain di Balikpapan berada di bawah ancaman yang serius. Salah satu ancaman ini adalah fragmentasi ekosistem. Setiap tahun hutan yang tersisa masih saja di jarah dan diisolasikan dari fragment-fragment hutan lain sehingga menyebabkan binatang tidak bisa bergerak di antara fragment-fragment itu yang dapat menambah risiko kepunahan lokal“ ujarnya dalam rilis yang diterima redaksi tribunkaltim.co.id, Jumat (9/4).

 

Stanis menyebutkan satu spesies mamalia yang telah punah di Balikpapan adalah banteng (Bos javanicus) dan tidak menutup kemungkinan spesies yang lainnya bisa ikut punah. Tetapi pria asal Ceko ini masih bersyukur setelah melihat dua ekosistem utama yaitu hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir Teluk Balikpapan belum diisolasikan.

 

Masih ada biokoridor (jalan hijau) seluas 5.656 hektar di antara hutan lindung dan pesisir, melalui DAS (Daerah Aliran Sungai) Selok Puda, Sungai Tengah, Berenga, Tempadung, Baruangin dan Kemantis. „Tetapi koridor ini perlu dilindungi jika semua itu ingin diselamatkan dari ancaman kepunahan,“ tegasnya.

 

Stanis menilai anncaman utama untuk biokoridor (jalur hijau) ini adalah perencanaan membuat jalan penghubungan ke Jembatan Pulau Balang yang melewati perbatasan barat Hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir barat Balikpapan. Jalan ini akan memotong semua koridor yang masih tersisa dan akan membuka akses untuk bermacam-macam aktivitas yang nantinya akan merusak hutan dan pesisir, termasuk illegal logging, kebakaran hutan dan pemburuan. „Ini akan sangat membahayakan reputasi Kalimantan Timur sebagai provinsi hijau (Green Province). Tetapi bencana ini bisa dihindari dengan cara pembuatan jembatan alternatif dari Tanjung Batu ke Gunung Seteleng, agar jalan penghubungnya tidak perlu dibangun melalui sepanjang perbatasan Hutan Lindung Sungai Wain dan pesisir barat Balikpapan,” katanya.

 

Dengan alternatif itu, keanekaragaman satwa kota Balikpapan yang di kenal unik di seluruh dunia menjadi bisa diselamatkan. Balikpapan menurutnya adalah kota yang sangat unik di dunia karena kekayaan jenis satwa dan tanamam liar yang masih terdapat di dalam wilayah administratifnya. Hal ini ditunjukkan oleh jumlah spesies mamalia yang telah ditemukan oleh beberapa peneliti dari Indonesia dan dari negara luar. Sampai saat ini, sebanyak 94 spesies mamalia sudah terdaftar di Balikpapan. Tetapi sangat mungkin jumlah ini akan bertambah menjadi lebih dari 100 spesies setelah dilakukan penelitian lengkap tentang mamalia kecil seperti tikus, curut atau kelelawar. Namun, jumlah spesies mamalia kecil masih belum dapat di pastikan.

 

Terdapat 29 spesies mamalia yang ditemukan di Balikpapan dan dilindungi di Indonesia sesuai dengan PP No. 7 tahun 1999. Sebanyak 83 spesies dari 94 spesies mamalia yang diketahui di Balikpapan, kebanyakan ditemukan di Hutan Lindung Sungai Wain. “Namun sampai saat ini ada juga 11 spesies yang hanya dapat dilihat di luar area yang dilindungi seperti empat spesies mamalia laut yakni duyung, pesut, lumba-lumba hidung botol dan lumba-lumba tanpa sirip pungung,” ujarnya. (*)

 

 

1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

sudah seharusnya pemerintah balikpapan serius menganai hal ini,bukan hanya persoalan beruang madu yang menjadi maskot kota,tp ekosistem lain..perencanaan pembangunan pulau balang hanya akan merusak ekosistem pesisir teluk balikpapan,akan banyak mangrove yang akan hancur karna pembangunan ini,akan banyak bekantan terusik ketenanganx.tidak menutup kemungkinan pesut(yang msh ada di teluk balikpapan),bekantan,orang utan akan punah jika hal ini tidak diperhatikan..kita harapkan seluruh elemen masyrakat juga ikut membantu pemerintah dalam hal ini,pers besar perannya untuk terus mengkampanyekan hal ini kepda masyarakat..

Posted by: benny | Jumat, 16 April 2010 | 12:31 WITA

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved