ALEX PARDEDE
Upacara Laliq Ugal Tebe Rau. Salah satu upacara adat di Kutai Barat.
Senin, 22 September 2008 | 19:56 WITA
MULAI awal September hingga awal Oktober, Kabupaten Kutai Barat khususnya wilayah Mahakam Ulu mulai diguyur hujan. Pada saat itulah waktu yang tepat dimanfaatkan penduduk lokal untuk bercocok tanam padi gunung jenis Mayas.
Selain itu, warga juga melaksanakan upacara adat tanam padi yang dikenal dengan sebutan Laliq Ugal atau Tebe Rau, seperti yang dilakukan di Kampung Tering Lama, Kecamatan Tering.
Upacara adat dilakukan selama 26 hari terhitung tanggal 1 - 26 September, sebagai bentuk upacara syukur atas hujan yang diturunkan Tuhan. Pasalnya, dengan momen itulah warga Dayak Bahau Bateq bisa melaksanakan kegiatan tanam padi.
Lantaran istimewa, upacara adat yang diawali dengan tarian Hudoq dibuka langsung Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kubar FX Markus Raing. Bahkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kaltim Firminus Kunum dan Ketua KMWMU Tinggang Bavung pun ikut hadir.
Prosesi upacara Laliq Ugal atau Tebe Rau terdiri dari berbagai prosesi seperti Mitang Bulu, Nebing, dan Rau Tannah. Adapun Tebe Rau sebagai puncak acara diakhiri dengan acara Atal Yaang dan Atal Hendaq.
Saat rombongan tiba di kampung Tering Lama disambut dengan gong dan tarian wanita yang mengiringi menuju Lamin Adat. Di depan Lamin Adat telah menunggu beberapa kaum wanita berpakaian adat untuk memasang gelang manik (lekuuq) di tangan para pejabat Kubar dan Kaltim yang hadir.
Setelah itu rombongan provinsi dan kabupaten berangkat menuju rumah warga Tering satu per satu untuk menikmati makanan yang telah disediakan, dan berakhir kembali di Lamin Adat. Para tamu dihidangkan makanan khas masyarakat kampung seperti soto ayam, nasi sop, kue-kue. Dengan penuh keakraban dan antusias mereka menyantap makanan yang telah disediakan di ruangan berukuran 20 x 30 meter.
Dalam kesempatan itu Ketua Panitia Tebe Rau Yohana Dew mengaku sangat bangga dapat melaksanakan acara adat Laliq Ugal ini. Pasalnya, di tengah era globalisasi, di mana kebudayaan daerah semakin terkikis, namun warga Kampung Tering masih dapat melaksanakan kegiatan adat ini. "Makanya kami sangat berharap sekali kepada Pemkab Kubar agar peduli terhadap kebudayaan yang ada di daerah ini," ujarnya. (lex)